Rabu, 03 Februari 2016

How I Fall in Love with Plant Tissue Culture

Saya bertemu dengan kultur jaringan tanaman pada saat kelas 2 SMA. Karena hobi sekali menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan sekolah, saya sering tidak sengaja menyaksikan tayangan-tayangan video yang diputar di perpustakaan. Salah satunya adalah tentang teknik kultur jaringan tanaman. Video itu tidak hanya diputar sekali, sempat berkali-kali secara tidak sengaja saya menontonnya.

Di dalam video itu tampak beberapa siswa dengan memakai jas lab, memindahkan bagian tanaman di dalam suatu meja kerja yang tertutup - later on I know, that was Laminar Air Flow :D. Ada pula video yang menampilkan tanaman utuh di dalam botol kaca yang tertutup rapat. Saya benar-benar terkesima, bagaimana mungkin tanaman itu bisa hidup di dalam sana?

Setelah itu saya menggali informasi tentang metode kultur jaringan ini. Ternyata banyak dipelajari jika kita masuk ke jurusan pertanian atau biologi. Saya sempat naksir IPB loh, lalu mengutarakan keinginan saya untuk masuk Biologi IPB, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Bapak. Alasannya klise, "terlalu jauh, kamu perempuan".

Akhirnya nasib saya berakhir di Biologi Unair. Sebenarnya saya ingin mengambil skripsi di bidang kultur jaringan waktu itu. Tetapi apalah daya, laboratoriumnya -waktu itu- terbatas dan jumlah peminatnya banyak sekali. Melihat situasi itu, saya pesimis bisa lulus 4 tahun. Akhirnya takdir mengantarkan saya kepada Bu Jun, salah satu dosen tanaman yang sedang mengerjakan proyek penelitian. Meskipun di awal saya harus mengeksplorasi lumut hati dan mengkarakterisasinya, proyek ini sebenarnya diarahkan ke uji aktivitas ekstrak kasar lumut hati. Organisme yang digunakan untuk uji aktivitasnya adalah bakteri. Jadi, saya tenggelam di Lab Mikrobiologi. Skripsi saya, ya skripsi mikrobiologi. Haha..

Tahun 2009 saya mengajar di sebuah sekolah tinggi swasta dengan degree yang masih S1. Maka saya berkeinginan untuk lanjut S2 di universitas negeri yang dekat dengan lokasi kerja saya. Eh, ternyata, sebelum saya benar-benar mendaftar di sana, Widhi, teman seangkatan saya, memberi info tentang lowongan S2 di Korea. Singkat cerita (sebenarnya ceritanya panjaaaaang..hahaha), saya berangkat ke Korea. Profesor saya, Prof Kim Chang Kil ternyata adalah seorang ahli di bidang kultur jaringan tanaman! How lucky I am. Maka saya bahagia sekali karena apa yang pernah saya cita-citakan dulu, ternyata kejadian. Alhamdulillaah.. Bahkan sekarang, di tempat kerja saya yang baru, saya masih melakukan hal yang sama.

Inti dari cerita ini sebenarnya adalah apa-apa yang kita ingini, mungkin belum bisa kita peroleh di saat itu, saat yang kita mau. Tetapi percayalah, suatu saat, kalau Tuhan berkehendak, maka jadilah. Life is always that simple :).



****
Lalu mengapa saya menulis kisah ini?
Sejak hari Senin kemarin, saya menguji skripsi 7 orang mahasiswa. Di akhir sidang, kami selalu mendengarkan kesan pesan mahasiswa yang telah menyelesaikan sidang skripsinya itu. Di antara mereka, bahkan ada beberapa yang sebenarnya tidak suka dengan apa yang mereka pelajari di sini, karena simply bukan passion mereka. Tetapi hebatnya mereka tetap bertahan dengan segenap perjuangan, hingga lulus! Saya rasa orang-orang yang begini termasuk dalam tipe orang yang adaptif dan cerdas. Salut untuk mereka. Ah~ selalu bahagia menjumpai orang-orang yang yakin bahwa masa depannya akan lebih baik dan selalu berpikir positif. Semoga tercapai apa yang dicita-citakan ya, Nak! :)



Tidak ada komentar: