Kamis, 12 Juni 2008

Tugas TAV

Wina Dian Savitri

080412930

Tugas Mata Kuliah Taksonomi Avertebrata

Perbedaan Stomatopoda dan Decapoda Berdasarkan Tanda-tanda Morfologinya

Pembeda

Stomatopoda

Decapoda

Tagma

Terdiri dari tagma kepala, tagma dada, dan tagma abdomen

Terdiri dari tagma cepalothorax dan tagma abdomen

Jumlah segmen

6 segmen abdomen

5 segmen abdomen

Telson

Telson sangat besar dan lebar membentuk segi empat

Telson ramping dan pipih

Tungkai

1 pasang antenulla

1 pasang antenna

1 pasang maxilliped

3 pasang tungkai thorax

1 pasang antenulla

1 pasang antenna

1 pasang mandibula

1 pasang maxilullae

1 pasang maxillae

5 pasang tungkai abdomen (pleopoda)

Antenna

Antenna pertama triramous

Antenna pertama biramous atau uniramous

Selasa, 10 Juni 2008

Hormon hCG (Human Chorionic Gonadrofin)



Sinyal yang menjaga agar korpus luteum tetap aktif selama awal kehamilan adalah human chorionic gonadotrophin (hCG), yang disekresikan oleh plasenta yang sedang berkembang. hcG adalah peptida yang secara struktural berhubungan dengan LH dan berikatan pula dengan reseptor LH. Di bawah pengaruh hCG, korpus luteum terus memproduksi progesteron untuk menjaga keutuhan endometrium. Tetapi pada minggu ketujuh tahap perkembangan, plasenta telah mengambil alih produksi progesteron dan korpus luteum sudah tidak dibutuhkan lagi. Sejak saat itu korpus luteum akhirnya berdegenarasi. Produksi hCG oleh plasenta mencapai puncaknya pada bulan ketiga tahap perkembangan, kemudian sedikit-demi sedikit berkurang.

Fungsi kedua dari hCG adalah menstimulasi produksi testosteron dengan mengembangkan testis pada fetus jantan. Testosteron janin dan metabolit dihydrotestosteron (DHT)-nya penting untuk ekspresi karakter jantan dan untuk menurunkan testis ke skrotum sebelum kelahiran.

hCG adalah bahan kimia yang terdeteksi pada saat tes kehamilan. Karena hCG dapat menginduksi ovulasi pada kelinci, beberapa tahun yang lalu urin dari seorang perempuan yang diduga hamil diinjeksikan ke tubuh kelinci. Ovarium kelinci tersebut kemudian diperiksa tanda-tanda ovulasinya. Butuh beberapa hari untuk mendapatkan hasil dari uji ini dan memastikannya pada pasien. Sekarang dengan teknik biokimia modern, para wanita dapat melakukan uji kehamilannya sendiri dalam beberapa menit secara pribadi di rumahnya.

***
Taken from: Silverthorn DU. 1998. Human physiology: an integrated approach. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. pp: 726.

Picture taken from: http://php.med.unsw.edu.au/embryology/index.php?title=File:Ovary_corpus_luteum.jpg

Hormon PMSG

PMSG pertama kali ditemukan pada tahun 1930 oleh Cole dan Hart. Cort dan Hart menemukan bahwa pada darah kuda antara hari ke-40 sampai hari ke-140 dari masa kebuntingan mengandung hormon gonadotrofik dalam jumlah besar. Tidak seperti hormon yang terdapat pada wanita hamil, yang di bentuk oleh jaringan plasenta, maka gonadrofin kuda bunting diduga dibentuk oleh mangkuk-mangkuk endometrium uterus yang sedang bunting. Dan bila gonadotrofin ditemukan dalam air seni manusia dalam konsentrasi yang tinggi, maka PMSG ini hampir seluruhnya ditemukan dalam darah. PMSG tetap berada dalam aliran darah, tidak hanya pada kuda betina yang sedang bunting, tetapi juga pada hewan-hewan yang disuntik dengan PMSG (Nalbandov, 1990).

PMSG merupakan alat yang berguna untuk penelitian endokrin. Secara komersial hormon ini mudah didapatkan, Hormon ini dapat disediakan dengan kondisi laboratorium yang biasa, yaitu dengan mengambil darah kuda betina pada tahap kebuntingan yang tepat. Hormon ini mudah distandarisasi, suatu kulitas yang sangat berharga untuk tujuan pengobatan atau penelitian. Hormon ini terutama menyebabkan pertumbuhan folikel apabila diberikan secara subkutan, dan menyebabkan ovulasi apabila disuntikan secara subkutan yang kemudian diikuti dengan suntikan intravena. Karena hormon ini memiliki aktivitas FSH yang tinggi, maka seringkali mengakibatkan siste dan bukan folikel, terutama bila dosisnya besar dan suntikannya diperpanjang (Nalbandov, 1990).

Suntikan hormon PMSG segera sebelum partus menyebabkan pertumbuhan yang mencolok, ovulasi dan bahkan pembentukan sistem yang menunjukkan ovarium mampu mengadakan tanggapan terhadap stimulasi hormon.

Sumber:Nalbandov, A.V. 1990. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas. UI Press. Jakarta.