Senin, 24 Januari 2011

Notulensi Kim-C edisi Hari Ibu (Desember 2010)

Bersama: Ustadzah Sitaresmi

Mengapa sih ada peringatan hari ibu di Indonesia tanggal 22 Desember?
Ini terkait dengan Kongres Wanita. Kartini : "Wanita Indonesia perlu mendapat pendidikan yang baik agar ia bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya".

Ilustrasi : Sekitar 20 thn yg lalu, saat itu ibu Sita baru punya anak 2, kemudian kalo ia menulis di kolom pekerjaan IRT, mereka langsung mencoret kolom pekerjaan. Jadi masih ada asumsi bahwa IRT bukanlah merupakan sebuah pekerjaan, atau jobless. Islam sangat serius memperhatikan, bagaimana seorang anak harus bersikap kepada kedua orangtuanya, dalam konteks ini ibunya.

Arahan Islam :
1. QS Luqman - perintah bersyukur/berterima kasih kpd orangtua, langsung dibawah perintah utk bersyukur kpd Allah.

2. Qs Al Ahqof: 15- Sulaiman, minta ilham utk bersyukur kpd orangtua. - disini kembali ditegaskan, bhw sikap seorang muslim adalah benar-benar bersyukur dan berbuat baik kpd kedua orangtuanya.

3. Surga di tapak kaki ibu - Keridhoan orangtua, mempengaruhi keridhoan Allah kepada kita.

4. Sahabat juga bertanya : Kepada siapa oaku harus bbuat baik ya Rasulullah Ibumu, ibumu, ibumu kemudian bapakmu. Ini menunjukkan betapa kita harus berbuat baik kepada ibu kita.

5. Asma, ibunya seorang musyrik (beda ibu dengan Aisyah), dia malu dan tidak mau menemui ibunya. Maka Rasulullah pun menegurnya. Luqman : 14 - 15 (Asbabun Nuzul : Kisah Mush'ab).

6. Contoh kisah, bahwa taat bukan berarti harus menuruti semua kemauannya. Jika pada hal-hal tertentu, yg Jika ada hal yg buruk yg dianjurkan oleh orang tua dan kita terpaksa berkata tidak, maka katakanlah dengan santun.

7. Abu Hurairah adalah contoh orang yg sangat santun kpd ibunya, sampai sampai dia tidak mau lewat di depan ibunya tapi selalu lewat di belakang ibunya.

8. Seorang manajer, mencuri 175 ribu ketika dia kecil, uang ibunya. Kemudian setelah dia besar, dia menjadi manager dan dia tetap tidak mengakui kesalahannya itu. Namun ia memberi uang kepada ibunya tiap bulan. Dia menganggap itu sudah impas karena sudah memberi setiap bulan. Kemudian, istrinya sakit, tanpa terdiagnosa penyakitnya oleh dokter meski sudah full check up. Kemudian dia mendatangi ustadz dan menceritakan masalah penyakit istrinya, kemudian ustadz meminta ia memohon ampun pada Allah, dan coba diingat mungkin kamu punya nazar yg belum kamu bayar, atau ada hutang yg belum dibayar. Bapak itu menjawab tidak ada. Kemudian ustadz berkata, coba diingat dosa apa yg kamu punya terhadap orangtua yang mungkin belum dimaafkan. Kemudian dia mengingat dosa mencurinya. Dan mengungkap alasannya. Ustadz berkata, tapi apakah ibu kamu sudah ridho? Ia berkata, ia ustadz, ia belum ridho, bahkan sering menceritakan kepada cucunya bahwa uangnya pernah dicuri dan akan menghukum pencurinya jika tertangkap.

Apakah dalam hidup ini kita pernah berpikir untuk khusus mendoakan ibu kita? Jika ibu jauh, buatlah schedule utk terus menghubungi ibu kita secara berkala. Terakhir bakti kita adalah:

1. Membahagiakannya di hari tua, lebih mendekat kepada Allah dan usahakan semampu kita untuk memastikan ibu kita meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
2. Ketika ibu kita sakit, pastikan dia berada di tempat yg tidak melanggar syar'i. Jika kita memfasilitasi ibu untuk berobat secara tidak syar'i berarti kita turut andil mengakibatkan suul khatimahnya ibu kita. Kalo kita mencintai, juga perhatikan perasaannya. Jangan sampai ibu kita merasa useless, merasa bosan, Makanya pastikan dia ikut pengajian-pengajian atau klub-klub olahraga.

Pertanyaan & Diskusi:

1. Peran sebagai Ibu vs Pegawai Kantoran/Aktivitis Dakwah

Pekerjaan utama adalah Ibu. Tetapkan itu dalam diri kita.
Kemudian yg lain adalah tambahan. Tetapi dalam Islam, sesungguhnya tidak ada pembatasan. Aktifnya ibu dalam upaya perbaikan di masayarakat akan mengimbas ke anak. Itu juga merupakan bentuk kasih sayang. “In tanshurullah wa yutsabit aqdamakum”. Cuma harus diperhatikan juga niat kita. Jadi dalam bekerja, niatkanlah untuk ibadah. Bukan untuk pendapatan. Pastikan kita terus menyayangi dan berbakti hingga akhir usia kita. Juga pastikan kita reachable, bisa terjangkau kapanpun. Juga diperhatikan, jika terpaksa meninggalkan anak untuk bekerja, pastikan ia tidak hanya diasuh oleh pembantu. Mungkin ditemani neneknya. Jadi kesimpulannya, tidak apa seorang ibu bekerja. Namun orientasi bukan pada karir dan uang tapi pada pemberdayaan diri. Dan tetap dengan tidak mengorbankan anak. Dan tetap menyadari bahwa tugas utama adalah seorang ibu.

2. Bagaimana ibu Sita mengatur waktu dengan membesarkan 7 anak, dan bagaimana peran suami?

Kalo ada seorang yg sukses itu karena dukungan keluarga. Yang pertama, kita harus ikhlas, dalam artian semua kelelahan kita nikmati. Kebetulan ibu juga tinggal dekat dengan keluarga. Jadi waktu itu ibu Sita hanya bekerja freelance menjadi penerjemah. Intinya memprioritaskan anak dan keluarga. Kalo ngajar di UI membawa anak, dan dibantu oleh binaan pengajian. Ketika mereka menangis karena tidak ingin ditingal, ibu berkata : "Ibu sayang kalian, tapi hak Allah lebih besar atas diri ibu".

Ibu juga sering membawa anak-anak ketika tugas keluar kota. Dan ketika di rumah, anak-anak sering menemani seluruh aktivitas ibunya. Pernah suatu hari anak bertanya kenapa ibunya harus terus menerus pergi, kemudian Ibu Sita membacakan anaknya QS Taubah : 24.

Kemudian nanti akan ada fase dimana ibu bisa menyambi sambil sekolah, (saat itu usia anak yang ke-7 usia TK), ibu Sita lalu menjadi dosen, dan mengambil S2. Artinya dengan terus menjaga cita-cita dan bekerja, otaknya tidak tumpul. Dan bu Sita merasa, semakin tua semakin berkah. Jarak S1 ke S2 adalah 16 tahun, dan S2 ke S3 jaraknya 20 tahun.

Kemudian bangun rasa tanggung jawab antar adik dan kakak. Ibu juga mengajarkan anak-anak untuk punya buku harian. Apa ilmu yang ibu miliki, turunkan juga pada anak. Tanamkan juga kepada anak untuk mencintai buku dan ilmu. Nah, anak juga harus melihat ibu untuk terus membaca kalo kita ingin anak mencintai buku. Bangun team work. Family is a team. Jadi ketika ibu atau anak sukses, semua ada peran terhadap kesuksesan anggota keluarga lainnya.

Akan ada fase dimana rumah akan sepi karena anak sudah berpisah, jadi sekarang dinikmati. Jadi seorang ibu tidak bileh panikan, nervous. Ibu harus kuat berdoa dan punya banyak ilmu. Dengan ilmu, membesarkan anak tidak menjadi beban. Pelajari ilmu psikologi, pertumbuhan dan pendidikan anak. Ajari mereka dengan ilmu-ilmu Islam. Awalnya memang sangat berat, tapi tidak terasa tiba-tiba akan mudah. Intinya juga harus sabar, nantinya akhirnya indah. Akan ada fase dimana ibu tinggal santai, anak saya tanpa disuruh akan sholat dan shaum. Intinya coba memadukan kerja diluar dan dirumah dengan team work keluarga. Dan segala kesuksesan itu adalah dari Allah.



By: Ariesa Ulfa (dengan editing seperlunya)

Tidak ada komentar: